Home Blog Contoh cerpen singkat tentang cinta sejati

Contoh cerpen singkat tentang cinta sejati

Dia kah takdirku?

Fatimah Al-Khelaif lagi-lagi menolak laki-laki yang datang melamarnya. Ayahnya benar-benar merasa malu akan sikap putri bungsunya yang satu ini. Sebenarnya bukannya ia tak ingin menikah, tapi ia merasa takut mengalami hal yang serupa yang dialami oleh kakak perempuannya. Hanya baru beberapa bulan saja mereka menikah, tak lama kemudian mereka pun bercerai. Penyebabnya adalah sang suami yang ringan tangan dan sering berkata-kata kasar pada istrinya. Padahal di awal pernikahan mereka, ia begitu romantis dan sangat lembut terhadap wanita.

Kini dalam pikirannya, ia menganggap semua laki-laki sama saja. Mereka akan berlaku manis untuk mendapatkan seorang wanita. Namun, jika ia telah menaklukannya, wanita itu pun dicampakkan. Pikiran negatifnya akan laki-laki semakin menguat dalam otaknya ketika dia banyak sekali mendapatkan e-mail dari teman-temannya yang telah menikah. Mereka ternyata juga sering mendapatkan perlakuan kasar dari suami-suami mereka. Hanya ada beberapa saja yang mengaku bahagia dengan bahtera rumah tangganya, dan sisanya adalah keluhan dan penyesalan.

Fatimah semakin yakin dengan pemikirannya. Ia bahkan mulai menolak untuk bertemu jika ada laki-laki yang datang ke rumahnya untuk sekedar bersilaturahmi. Padahal, laki-laki yang datang ke rumahnya bukanlah lelaki biasa, kebanyakan para pejabat negara, baik dalam negeri maupun luar negeri . Ayahnya sudah kesal bukan kepalang, tidak sedikit dari para lelaki yang datang itu marah dan mengancam akan memutuskan hubungan kekerabatan. Saking kesalnya, Ayahnya memutuskan untuk membiarkan Fatimah yang keras kepala, ayahnya sudah menyerah mencarikan lelaki yang tepat untuknya.

Dalam hati Fatimah, sebenarnya ia merasa sepi. Sudah hasrat seorang wanita untuk memiliki sosok lelaki yang melindungi. Namun ketakutannya jauh melebihi keinginnannya sehingga ia bersikeras untuk tetap sendirian.

Suatu hari, Fatimah pergi ke suatu tempat menggunakan bis umum yang penuh berdesakan. Fatimah mencari posisi untuk berdiri, namun sebelum ia sempat menggerakan kakinya, seorang lelaki berbicara padanya.

“Maaf Ukhti, silahkan duduk saja di tempat saya, biar saya yang berdiri” ujarnya sambil beranjak dari tempat duduknya dan mempersilahkan Fatimah untuk duduk.

Sepanjang jalan, Fatimah memperhatikan lelaki itu. Ia tidak duduk selama 2,5 jam perjalanan. Sekalinya ada tempat duduk yang kosong, ia melihat-lihat dulu sekitarnya, jika ada yang belum duduk maka ia tak akan duduk. Fatimah terpesona, ia jarang melihat lelaki yang memiliki sikap seperti ini. Padahal di sekelilingnya banyak lelaki muda yang pura-pura tertidur karena tak rela tempat duduknya diambil orang lain.

“Akh, saya akan turun di halte selanjutnya, silahkan duduk saja di tempat saya” ujar Fatimah kepada lelaki yang ia perhatikan.

“Tidak usah ukhti, saya juga akan turun di masjid depan. Sudah Adzan Ashar, Allah sudah memanggil” ucapnya seraya berlalu, bersiap untuk turun dari bis.

Fatimah tertegun-tegun, untuk pertama kalinya ia mengagumi sosok lelaki yang bahkan tidak ia ketahui namanya.

Hati Fatimah berdebar, ini yang pertama kalinya. “Dia kah takdirku? Lelaki tampan nan sholih yang Allah titipkan untukku?” tanya Fatimah, berbisik dalam hati.

Tapi sayang seribu sayang, ketika tangan kiri sang lelaki yang berhasil merebut hati Fatimah mengangkat ranselnya, telah ada cincin perak yang melingkar di jari manisnya.