Home Blog Contoh cerpen panjang tentang persahabatan sejati

Contoh cerpen panjang tentang persahabatan sejati

Jawaban Sebuah Doa

Cuaca di Kyoto sangat bersahabat siang ini, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di taman. Sambil menggenggam buku harian kesayanganku, aku memandangi foto mereka di bawah pohon sakura yang sedang bermekaran. Ah, aku rindu mereka hingga tak sadar air mata ini mulai mengalir.

Dahulu, aku dikenal sebagai sosok yang sangat pendiam, entah di sekolah, di tempat les, di tempat mengaji, pokoknya selain di rumah, orang-orang mengenalku sebagai anak perempuan yang sulit bergaul. Bukan hanya sulit bergaul, bahkan untuk berbicara pun menjadi suatu hal yang sangat sulit untukku.

“Ajda… nama kamu bagus banget ya! Tapi kok nggak sama kaya orangnya sih? Hahaha” Fino dan kawan-kawannya berulah lagi hari ini. Aku hanya bisa mengelus dada, hal ini sudah tak begitu menyakitkan untukku. Hari kemarin, aku terkena lemparan bola mereka yang penuh dengan tanah hingga seragam putih biruku ternodai sejak pukul 7 pagi. Hari kemarinnya lagi, tas coklat kesayanganku penuh dengan coretan spidol merah. Hari kemarin-kemarinnya lagi bahkan aku dimarahi karena tertawa, mereka bilang aku tak boleh tertawa karena gigiku tak enak dipandang. Konyol bukan?

Begitulah kehidupanku di masa putih biru. Aku selalu datang paling pagi dan juga pulang paling awal karena aku takut jadi bahan olokan mereka jika terlalu lama ada di sekolah. Aku juga tak pernah jajan di kantin, karena biasanya ketika aku meninggalkan kelas, barang-barangku di kelas sudah tak utuh lagi. Maka jadilah aku si anak kuper yang tertekan dan tak punya teman. Tak terhitung berapa kali aku menangis di rumah dalam seminggu. Emosiku tidak stabil, aku mudah marah dan menyalahkan orang lain.

“Allah.. tolong beri aku satu sahabat. Satu saja, aku mohon” ucapku dalam sujudku. Rasa-rasanya aku sudah lupa bagaimana rasanya memiliki impian dalam hidup. Setiap hari, aku hanya merasa hidup ketika aku tidak bertemu dengan Fino dan kawan-kawannya. Aku lelah menjalani hidup seperti ini. Wali kelasku sudah beberapa kali meminta orang tuaku datang ke sekolah untuk membicarakan tentangku. Sebegitu mengkhawatirkankah diriku?

Saat itu aku sudah putus asa. Aku memutuskan untuk mencari SMA sejauh-jauhnya dari kotaku. Aku ingin menjadi Ajda yang baru tanpa bayangan dari masa laluku. Aku mulai mempersiapkan keperluan untuk pendaftaran, aku sungguh sungguh sudah siap untuk menjalani hidup yang baru.

Tapi Allah punya rencana lain.

Aku gagal di seleksi tahap akhir karena nilai matematika yang kurang 0,5 poin. Aku gagal menjauhi mereka yang selalu menggangguku. Aku menangis semalaman.

“Hai, kamu Ajda kan? Kenalin aku Irma teman sebangkunya Dwi. Kamu temannya Dwi kan?” Aku memandangi orang yang menyebut dirinya Irma ini dengan tatapan terkejut. Jarang sekali ada orang yang menyapaku terlebih dahulu, apalagi satu paket dengan wajah riangnya.

“Eh, iya. Salam kenal, Irma” Aku menjawab dengan singkat.

“Ajda diajak siapa untuk gabung di Rohis ini? Kayanya rohis ini seru ya, kakak-kakaknya ramah banget. Aku bahkan sampai diajak secara pribadi sama kakak yang berkerudung biru itu.” Ia berbicara sembari menunjuk salah satu kakak yang ia maksud. Sedangkan aku masih keheranan karena ia orang pertama yang banyak bicara kepadaku.

Ya, akhirnya aku memberanikan diri untuk mulai bergabung dengan ekstrakurikuler ketika aku mulai memasuki dunia putih-abu ini. Dari sekian banyak ekstrakurikuler, aku memilih Rohis. Dan tak disangka-sangka, Allah menjawab doaku mulai dari tempat ini. Tempat yang aku kira akan memberikan luka baru.

Semakin lama, ekskul ini terasa berbeda. Ekskul yang notabene selalu mengadakan acara di masjid ini ternyata memiliki kehangatan sebuah keluarga. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa mencintai dan dicintai selain di rumahku sendiri.

Perlahan-lahan, aku mulai mencoba untuk berubah dengan bantuan mereka. Aku mulai memberanikan diri untuk lebih menunjukkan diri. Aku mulai mencoba untuk lebih ekspresif, menunjukkan apa yang aku rasakan. Dan kepercayaan diri itu mulai tumbuh meski perlahan.

Suatu hari, aku jatuh sakit tepat ketika kelas masih berlangsung sehingga aku harus istirahat di ruang UKS. Aku tak menyangka, mereka berbondong-bondong ke UKS, membawakan bekal dan merapikan barang-barangku dikelas. Bahkan ada yang sampai ikut menemani, bergantian dengan teman lain yang sedang luang. UKS tiba-tiba menjadi ramai, ada yang mengaji, ada yang memakan bekal makan siangnya, ada yang iseng mendorong-dorong ranjang tempatku beristirahat dan berbagai kegiatan lainnya.

Lalu aku seketika tersadar. Allah telah menjawab doaku. Allah memberikan banyak sahabat yang baik, bahkan bukan hanya satu. Tubuhku memang masih menggigil dan demam. Tapi hatiku dialiri kehangatan yang luar biasa. Aku tersenyum, memandangi mereka semua yang masih sibuk dengan kegiatannya masing-masing di ruangan mungil ini. Dalam hatiku, aku berjanji untuk menjaga titipanNya.

“Hei, Ajda! Kamu ngapain nangis sendirian disini?!” seru Dias, teman sekamarku selama menyelesaikan studi di Negara ini. Aku terlonjak saking terkejutnya.

“Eh Dias, duuh maaf, aku lagi rindu sahabat-sahabatku. Aku sudah tak sabar untuk pulang” ujarku sambil menghapus sisa air mataku.

“Huh, aku kira kamu kenapa. Aku khawatir tahu! Ya sudahlah, kita pulang yuk, udaranya sudah makin dingin”

“Ayo” aku beranjak dari tempat duduk dan tak lupa memasukan buku harianku kedalam tas.

Di sepanjang perjalanan pulang, aku tetap memikirkan kepulanganku tiga bulan lagi. Aku sungguh sudah tak sabar berkumpul lagi bersama keluargaku di rumah dan tentu saja dengan mereka.

Ketika orang lain bangga untuk pergi, maka aku selalu bangga untuk kembali pulang.