TAHAPAN KETOGENIK hendrayulianto.com

ldn info

naltrexone pharmacology click here
Menjadi pembakar lemak dengan membatasi karbohidrat adalah inti dari diet ketogenic. 
Tapi sebelum masuk ke pembahasan diet ketogenic ini, mari kita lihat dulu beberapa istilah yang ada supaya lebih jelas. 

Ketosis adalah kondisi dimana tubuh menghasilkan keton, keton adalah sumber bahan bakar energi yang berasal dari lemak dan bisa digunakan oleh semua sel (kecuali liver) dan keton ini bagus khususnya otak yang tidak bisa membakar lemak tapi seringnya ketergantungan dengan gula, nah keton ini adalah sumber bahan bakar untuk otak yang lebih unggul daripada glukosa. 

Ketosis yang bersifat nutrisi maksudnya adalah diet ketogenic dengan membatasi asupan karbohidrat sehingga tubuh menghasilkan tingkat keton yang dapat diukur di darah lebih dari 0.5mM hingga idealnya tidak lebih dari 3-5 mM saja dengan tujuan kesehatan (bukan malah bikin sakit). Syaratnya, hormon insulin dan kadar gula di darah harus rendah. 

Ketoasidosis: ini adalah yang suatu kondisi penyakit, dimana ini adalah dampak dari penderita diabetes (bisa juga karena alkohol) dan dengan gula darah tinggi tapi tingkat keton di dalam darah bisa lebih dari 10 mM bahkan beberapa kali lipat lebih tinggi lagi (inilah ketoacidosis yang berbahaya harap bedakan dengan kondisi ketosis pada diet ketogenic yang menyehatkan).

Keto-Adaptation adalah masa dimana tubuh sudah menggunakan lemak sebagai bahan bakar utama untuk tenaga, butuh waktu beberapa bulan sampai tubuh efisien dan kadang keton yang terbuang sedikit jadi ketika diukur ketonnya tidak terlalu tinggi seperti di awal dimana masih belum efektif dan ketonnya banyak terbuang. 

Untuk hidup yang lebih sehat, bisa kunjungi myagarpac.com

Suatu siang, tiga tahun silam. Saya datang ke sekretariat IKAPI Yogyakarta, untuk kumpulan rutin setiap Rabu. Sampai di sana, tumben-tumben saya lihat ada Mas Indra Ismawan, bos grup penerbit Media Pressindo.

“Halo Mas, lama nggak ketemu, kok tambah gemuk aja? Hehehe,” sapa saya. Memang cukup lama saya nggak jumpa miliuner rendah hati yang satu itu. Dan pas kali itu ketemu, badannya beneran kelihatan subur.

“Iyo, memang gemuk nih. Soale habis berhenti merokok,” jawab Mas Indra.

Saya njenggelek. Waini, topik menarik ini. Saya langsung mupeng pingin dengar ceritanya. Maka saya pun menginterogasi Mas Indra.

“Aku setop merokok lumayan lama, tiga bulan. Berat badan langsung naik 10 kilo,” kisahnya. Saya mulai nggelar tikar dan ngaduk kopi, menyimak. Segeralah terbangun hipotesis di kepala: berhenti merokok itu benar-benar menyehatkan.

“Tapi,” Mas Indra melanjutkan, “akhirnya aku putuskan merokok lagi.”

“Lho!! Kok??” atas nama pencarian kebenaran, saya nggak boleh begitu saja setuju keputusan politik Si Bos.

“Begini, simpel saja,” jawabnya. “Kalau aku lanjutin setop merokoknya, pasti aku tambah gemuk. Sementara kita lihat, mana ada orang obesitas bertahan sampe tua? Kalau ketemu perokok berat hidup sampe 90 atau 100 tahun sih sering. Tapi lihat orang obesitas bertahan hidup sampe umur segitu? Pernah, ‘po?”

Saya tertegun. Paten nih orang. Cara berpikirnya jauh dari linier. Dia sama sekali tidak membaca persoalan secara serta-merta, lewat permukaan saja, semisal: “Hmm.. karena berhenti merokok aku jadi gemuk. Gemuk berarti sehat. Jadi kalau mau sehat, berhentilah merokok.” Tidak, tidak. Manusia di depan saya itu punya pikiran yang melompat jauh ke luar kotak. Untung sampeyan nggak fesbukan, Mas, batin saya. Coba main fesbuk, pasti sudah dibuli sama kimcil-kimcil. Hahaha.

***

Suatu malam saya sowan ke Dipowinatan, kediaman penyair gaek Iman Budhi Santosa. Sambil mengisap 76-nya, beliau menelanjangi makna slamet dalam masyarakat Jawa. Kata Mas Iman, slamet dalam kosmologi Jawa berbeda jauh dengan selamat dalam pemahaman standar perspektif dunia modern.

“Dalam pemikiran modern, yang disebut keselamatan melulu terkait fisik. Orang naik kendaraan dan sampai tujuan tanpa terkena kecelakaan, berarti selamat. Orang yang fisiknya terlindungi, aman dan nyaman, disebut selamat. Sebaliknya, orang yang terkena gangguan fisik, atau bahkan mati, otomatis dikatakan tidak selamat. Cuma begitu itu. Jadi orang tidak paham dengan kematian Mbah Marijan yang mengawal Gunung Merapi, misalnya. Apa benar Mbah Marijan tidak selamat? Dalam kacamata orang Jawa, Mbah Marijan itu slamet. Slamet. Orang gagal mengerti, karena apa yang ada dalam sudut pandang mereka tak lebih dari perkara jasmani belaka.”

Mas Iman melanjutkan dengan konsep kesehatan modern. “Urusan Departemen Kesehatan itu kan cuma kesehatan jasmani saja to,” sambungnya. “Mana pernah mereka menempatkan sektor kesehatan jiwa dalam proporsi penting? Padahal persoalan masyarakat kita kebanyakan akibat problem ketidaksehatan jiwa. Penyakit fisik memang ada. Tapi sebenarnya jauh lebih banyak penyakit jiwa. Anehnya, segi ini nyaris dianggap tidak ada oleh Departemen Kesehatan. Jadi ya nggak heran, ketika para ahli

kesehatan menilai masalah rokok, yang dibahas cuma sudut pandang kesehatan fisik..”

***

Mengenang obrolan bersama Mas Indra Ismawan dan Mas Iman Budhi Santosa, saya jadi merenung-renungkan lagi arti “out of the box”. Tak bisa disangkal, poin-poin pikiran kedua orang perokok berat itu jauh dari standar. Ada batas-batas pagar yang mereka lompati, di saat semua orang nyaman-damai dan tak berani membayangkan apa-apa yang ada nun di luar pagar. Saya jadi ingat dialog lama yang terjadi antara Syekh Abu Hayyun dan seorang mbak-mbak unyu aktipis antitembakau.

“Iya, rokok memang berbahaya. Saya setuju sekali sama sampeyan, Mbak,” kata Syekh Abu Hayyun mantap. Wajah aktipis LSM antitembakau yang bertamu siang itu pun langsung berbinar.

“Begini,” lanjut Syekh. “Merokok itu nggak bisa dilakukan sambil terburu-buru. Anda bisa makan, minum, mandi, bepergian, bahkan bekerja, dengan cepat dan tergesa. Tapi tidak untuk merokok. Merokok mesti dilakukan seperti.. mm.. gerakan-gerakan salat. Harus tuma’ninah istilahnya, Mbak. Sedot, tenang, pengendapan sesaat, baru nyebul. Isep lagi, tenang dan pengendapan lagi, sebul lagi. Begitu terus-menerus. Lihat, ngudud sama sekali bukan aktivitas yang cocok untuk orang yang gegabah dan grusa-grusu…”

“Lho, maaf, katanya bahaya, Syekh? Kok malah nggak bahas bahayanya?” Si aktipis kimcil tampak nggak sabar.

“Sebentar..,” sambil tersenyum bijak Syekh memberi kode tangan, agar si aktipis diam dulu. “Untuk menghabiskan satu batang rokok, rata-rata dibutuhkan 20-25 kali hisapan. Kalau seorang perokok ngudud 10 batang saja setiap hari, artinya minimal ada 200 kali saat jeda tuma’ninah per harinya. Dua ratus kali setiap hari, Mbak! Nah, bayangkan saja jika ia menempuh hidup seperti itu belasan atau bahkan puluhan tahun. Apakah sampeyan yakin yang demikian itu tidak turut membentuk bangunan bawah sadar dan karakter pribadinya?”

“Bahayanya, Syekh. Pliss, bahayanya…”

“Jadi, ya nggak usah gampang heran kalau banyak pemikir muncul dari kalangan perokok. Sebab perokok itu bukan semacam speedboat yang melesat cepat di permukaan, melainkan lebih dekat dengan sifat kapal selam. Ia bergerak pelan namun pasti di kedalaman. Makhluk-makhluk kapal selam itu terbiasa tenang, jernih mencermati setiap hal, sekaligus punya daya imajinasi tinggi. Maka kita tahu ada Einstein, misalnya. Pastilah ia menemukan Teori Relativitas, serta teori bahwa semesta berbentuk melengkung, saat ia leyeh-leyeh sambil kebal-kebul dengan pipa cangklongnya. Ada juga Sartre, Albert Camus, Derrida, Sigmund Freud, yang semua-muanya menempa ngelmu tuma’ninah-nya lewat asap tembakau. Contoh lain? Ada Sukarno, Che Guevara, Winston Churcill, hingga John Kennedy. Atau para sastrawan-pemikir, mulai Rudyard Kipling, Hemingway, Mark Twain, Pablo Neruda, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, yang kesemua mereka pun menjalani metode yang sama. Jadi bisa kita simpulkan bahwa..”

“Stop! Stop!! Please, Syekh. Please! I said: ba-ha-ya! Please explain the ba-ha-ya!!”

“Hehe, iya, iya, Mbak. Maaf. Saya tegaskan bahwa rokok memang berbahaya.” Syekh ber-tuma’ninah sesaat. “Sebab.. yang paling berbahaya dari seorang manusia bukanlah paru-paru atau jantungnya, melainkan pikiran-pikirannya.”

fluconazol dosering

link cpahq.org link

Keton berasal dari lemak jenuh yang akan dioksidasi di liver dalam bentuk asam lemak, dan hasil dari lemak-lemak yang tidak teroksidasi akan diubah menjadi keton, dalam bentuk AcAC atau acetoacetate dan β-hydroxybutyrate sebagai salah satu sumber energi pengganti glukosa.  

Misalnya pada otak manusia yang sudah membatasi asupan karbohidrat akan menggantikan glukosa dengan keton ini sebagai bahan bakar tenaganya. 

Keton inilah yang membuat manusia bisa bertahan hidup tidak punah. 


Jika ada masa kesulitan, kelaparan, susah mendapatkan buruan atau makanan, otak manusia tetap bisa aktif dengan menggunakan keton yang berasal dari lemak ini walau tidak ada makanan atau asupan glukosa dari karbo/gula. 

Dalam sebuah percobaan kontroversial di tahun 1960-an, beberapa orang dibuat kelaparan selama beberapa minggu. 

Kadar ketonnya naik hingga lebih dari 5 mM, lalu disuntikkan insulin! 

Gula darahnya turun drastis karena suntikan insulin ini dari 70 mg/dL menjadi 25 mg/dL, apakah mereka langsung tergeletak di lantai dan koma?

Ternyata tidak, dengan gula darah serendah itu mereka tetap bisa hidup dan tidak terdapat gejala hipoglikemia atau gula darah rendah karena dalam kondisi ketosis.

Keton membuat manusia bonk-proof alias anti tepar.


Keton membuat seseorang anti-tepar, kuat walau tidak makan alias puasa. 

Beda dengan pemakan karbo/gula yang sudah buruk metabolismenya, habis makan malah mengantuk dan beberapa waktu kemudian lapar lagi. 

Kondisi ketosis, khususnya yang sudah beradaptasi menjadi pembakar lemak (keto-adapted) seperti memiliki tenaga yang tidak ada habisnya. 

Beberapa atlet di Amerika yang sudah keto-adapted kuat berlari ratusan kilometer selama belasan jam, mampu mendayung hingga ribuan kilometer selama beberapa hari melintasi samudra Pasifik.

Jadi, mari jadikan metabolisme tubuh optimal dengan pola makan ketogenic dan kunjungi myagarpac.com



Wikipedia SiteWide Iklan Baris
wisata